BIAS, Hadiah Kecil dari Tuhan

0
301
Sumber: dokumen pribadi

Semua orang pasti pernah berada di titik terendah, bahkan terkelam dalam hidupnya. Di mana kita pernah tersesat, mata kita dibutakan lupa caranya untuk bangkit. Itulah hidup, Tak semanis gulali tak sepahit kopi, kadang menawarkan kebahagiaan, tak lupa menawarkan kepedihannya.

Ada waktu di mana kita lupa caranya bangkit dari luka-luka nestapa, ada waktu di mana kita lupa caranya berjalan tanpa tertatih, ada waktu di mana kita lupa caranya berdoa tanpa pamrih. Itulah makhluk Tuhan yang tak luput dari dosa. Di saat aku terpuruk, duniaku begitu kelam, gulap gurita, hingga Tuhan menyinarinya lagi dengan sedikit cahayanya yang lambat laun mengisi relung-relung jiwa ini. Aku tau menjadi buruk itu pilihan, menjadi baik pun, itu juga pilihan dengan konsekuensinya masing-masing. Aku bersyukur Tuhan masih memilihku untuk bangkit, dengan segala kekuranganku walau aku harus tertatih untuk menggapai cahaya-cahaya itu. Di separuh perjalanan ini aku belajar banyak, aku yakin Tuhan mempunyai hadiah terindah yang telah terbungkus rapi, tersembunyi oleh sang waktu.

BIAS, setapak jalan kecil yang Tuhan berikan di separuh perjalananku. Entah dari beribu-ribu tempat di muka bumi ini, dari berkilo-kilo meter jalan yang kulalui, dari hembusan arah angin yang kubuntuti, aku telah terdampar di sini, bagai kapal karam yang tak bisa lagi berlabuh. Tapi di akhir pelabuhanku kali ini aku menemukan separuh hidupku yang hilang. Jiwa-jiwaku yang telah mati perlahan dihidupkan kembali. Mungkin begitulah Tuhan mengatur skenario-skenarionya tertata rapi di dalam rahasia Illahi.

Sumber: dokumen pribadi

BIAS, tempat persinggahan sang musafir yang lupa jalan pulang, sang musafir yang berusaha berjalan ke arah cahaya walau harus dengan cara tertatih, sang musafir yang belajar bangkit dari kegagalan hingga (Yang) pernah melumpuhkan nadi-nadi di jiwanya, sang musafir yang telah mati memori-memori otaknya,  sang musafir yang pernah tenggelam dalam badai keterpurukan.

BIAS, seperti Jabal Rahmah orang-orang yang tersesat, di mana jutaan orang-orang pilihan Tuhan berkumpul, berbaur, melebur. Di sini kita dipertemukan banyak orang dengan background-nya masing-masing, dengan ceritanya masing-masing, dengan tujuannya masing-masing, yang berasal dari sudut-sudut dunia dengan budayanya masing-masing, kita telah dipertemukan.

BIAS, berawal dari kapal yang terdampar tak bisa berlabuh, setapak jalan kecil dari Tuhan, tempat persinggahan sang musafir, Jabal Rahmah orang-orang yang tersesat, kini telah menjelma menjadi sebuah rumah, rumah kecil di sudut dunia yang menawarkan banyak kehangatannya, menawarkan keramahannya, menawarkan persabahatannya, menawarkan rasa nyamannya.

BIAS, rumah kecil beratap teduh yang telah memberikan banyak kenangan, memberikan banyak keluarga baru. Dulu di awal kita bagai orang asing yang hanya singgah, tapi setelah lama kita berproses mencoba memaknai setiap jalan Tuhan yang terjadi, tempat ini telah menawarkan sebuah keluarga baru,  keluarga baru yang mau mengulurkan tangan-tangan rapuhnya untuk ikut berjuang bersama, menawarkan tangan rapuhnya untuk keluar dari lubang yang dalam, menawarkan tangan rapuhnya untuk bergandeng-beriringan, karena dengan bersama-sama apa yang telah rapuh bisa lebih kuat dan kokoh. Itulah fungsinya keluarga saling menopang.

BIAS, hadiah kecil dari Tuhan di separuh perjalananku, yang terbungkus rapi sebagai kado kecil. BIAS, di sini bukan akhir dari segalanya, bukan akhir dari setiap perjalanan, bukan akhir dari setiap cerita. Tapi di sini adalah awal dari semuanya, kado kecil yang Tuhan buat untuk menyadarkan kita bahwa hidup tak semanis gula, tak pula sepahit kopi. Mimpi-mimpimu tidak cuma berhenti di sini, jatuh dan melambung ada masanya tersendiri. Tetap berjuang, walau patah itu ada segera sembuhkan. Berjuanglah hingga mati rasa saudaraku.

Jika kalian rindu singgahlah di rumah kecil ini, kami tak menawarkan banyak janji, Tapi ingatlah satu hal, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian. Saudaraku kita pernah berjuang bersama di bawah atap ini dengan tujuan kita masing-masing. Selamat Datang, Selamat Tinggal, Sampai Jumpa Kembali. Keluargaku.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of