Pare, Kampung SBMPTN!

0
302

“Mas rumahnya mana?”

“Kediri Bu, Kediri Kabupaten, deketnya Jombang, sebelah selatannya, Pare

“Oh, Kampung Inggris itu ya. Apanya itu Mas?”

“Dekat Bu, sekitaran situ”

“Wah jadi pinter bahasa Inggris dong?”

“Enggak juga tuh Bu. Hehe”

“Katanya Kampung Inggris, orang-orang Pare harusnya pinter dong kan tiap hari omongnya pakai bahasa Inggris”

“Lha maksudnya Kampung Inggris itu gimana sih Mas?”

“Ya di sana banyak kursusan bahasa Inggris Bu, ratusan, makanya disebut bahasa Inggris

“Lha itu di TV saya pernah nonton ada penjual kopi di warung, penjual bakso, pakai bahasa Inggris saat diwawancarai”

“Ya itu mereka ikut kursus Bu makanya bisa. Hehe”

“Nggak Bu, Pare itu sukunya masih Jawa itu Bu. Hehehe”

“Mas kuliahnya apa, bahasa Inggris?”

“Bukan Bu, jurusan saya Pendidikan Bahasa Daerah”

 “Harusnya Mas belajarnya bahasa Inggris saja, nanti punya mendirikan kursusan sendiri”

“Hehehe iya bu.”

Ya ampun, sepertinya jawaban saya judes sekali saat ditanya seorang ibu-ibu yang baik hati itu. Bukannya apa-apa, ya selain capek juga sih menjelaskan selalu diberi pertanyaan yang sama dalam setiap perkenalan, saya punya sebuah pengalaman yang sedikit ironis. Sebagai orang Kampung Inggris sendiri skor TOEFL saya tidak lulus. Saya kan jadi malu, dan malu-maluin kampung saya sendiri. Padahal kampus hanya mensyaratkan angka empat ratus untuk skor TOEFL. Di luar sana, saya sering mendengar syarat skor TOEFL kampus teman ada yang lebih tinggi mengangkasa. Untuk menutupi rasa malu, saya ngeles kalau semasa di rumah belum punya waktu untuk fokus belajar bahasa Inggris. Hehehe.

Persoalan skor TOEFL sebenarnya merupakan hal yang tidak akan muncul jika saya tidak punya kepentingan di sana. Kepentingan itu adalah karena saya kuliah. Oleh karena itu, saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana saya akhirnya bisa memiliki predikat mahasiswa kampus impian. Perjuangannya mungkin lebih lanjut (baca: pelik) dari sekadar lulus UN. Maklum tak ada yang diharapkan dari keterampilan seorang lulusan SMA di dunia kerja, maka kuliah menjadi sebuah pilihan realistis, memperpanjang masa pengangguran.

Saya tidak sendiri! Banyak sekali lulusan-lulusan SMA yang seperti saya, memimpikan sebuah kampus, menjadi bagian dari sana. Sekali lagi saya yakin saya tidak sendiri.

Kampus bukan soal gengsi. Kampus bukan soal harga diri. Kampus adalah tempat menempa diri, meningkatkan kapasitas diri. Pun kampus bukan soal pekerjaan di kemudian hari semata, kampus adalah tempat untuk belajar menjadi lebih baik memiliki ilmu yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain. Menemukan jati diri lebih lanjut dan agar lebih mantap di jiwa.

Dari cerita-cerita herois tentang mahasiswa, mungkin juga menjadi kerinduan tersendiri yang ingin dirasakan. Mahasiswa adalah sosok yang selalu solutif dan melek terhadap berbagai permasalahan rumah, tetangga, negara, hingga dunia. Mahasiswa adalah siswa yang ada sematan maha sebelumnya. Maha adalah istilah yang merujuk pada kelebihan dari yang biasa. Menjadi mahasiswa kampus impian adalah sebuah pencapaian yang memberikan kepuasan dan kenikmatan tersendiri.

Oleh karena itu, demi sebuah mimpi dan masa depan yang tinggi dalam mencapai kampus impian perlu dilakukan usaha-usaha. Seperti tirakat, puasa, berdoa, bergabung di lingkungan yang positif agar tetap semangat, belajar dengan giat. Usaha atau perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melewati sebuah ujian yang menentukan dan dikerjakan sendiri. Kawan seperjuangan juga lebih banyak dari biasanya, juga berasal dari lintas generasi angkatan kelulusan, persaingan memperebutkan satu kursi menjadi lebih berarti.

Lulus SMA adalah sebuah tenggat transisi yang cukup penting dalam kehidupan. Jika ditambah TK maka 14 tahun lamanya lulusan SMA ditempa oleh sekolah. Mereka akan menghadapi jenjang kehidupan lebih lanjut.

Lulusan SMA itu yang ternyata banyak mengisi pundi-pundi kursusan yang ada di Pare. Mereka tidak mau meredupkan semangat belajar. Mereka ingin terus belajar. Dan Pare menjadi alternatif yang tepat.

Hal ini juga yang telah diramalkan oleh entah siapa yang memberikan nama Pare. Nama itu diketahui merupakan akronim dari ‘Tempat Istirahat’ dalam bahasa. Sedang ‘Tempat Istirahat’ adalah ruang yang nyaman. Ruang yang hanya sementara disinggahi untuk melanjutkan perjalanan. Sebuah filosofi hidup yang cukup dalam. Ruang yang syarat dengan kondisi belajar yang efektif. Konon, program-program pendek kursusan ala Pare yang terkenal dengan periode 10 dan 25 juga menunjukan hubungannya dengan ruang sementara itu.

Sebenarnya Pare tidak hanya memiliki lembaga-lembaga bahasa Inggris, terdapat tempat belajar bahasa Arab dan pondok pesantren yang cukup terkenal. Pare secara alamiah tumbuh menjadi ruang untuk belajar. Tak menutup kemungkinan ruang belajar lain akan muncul jika metode yang dijalankan sesuai, di  lain Kota Santri, Kampung Bahasa, dan Kampung Inggris mungkin bisa saja nanti akan muncul sebutan Pare Kampung SBMPTN.

Selamat datang di Pare, Selamat Belajar dengan Nyaman!

Samsul Maarif. Sekretaris kelompok Pemuda The Etan Kali Pare.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of