Pare Kediri, Kota Merajut Asa

0
225
Kebersamaan para tutor di BIAS Education selepas rapat, sumber: dokumen BIAS

Aku adalah seorang laki-laki dengan sejuta harapan optimis yang bergelayutan di kepala. Hanya saja, tidak senada dengan mimpi-mimpiku itu, sifat melankolis dan mudah down menjadi penghalang semua yang sudah kuimpikan. Namun, pada cerita ini aku akan sedikit menceritakan tentang sebuah tempat yang memulihkan paling tidak satu dari sekian banyak harapan yang pupus di tengah jalan.

Aku adalah seorang alumni universitas swasta di salah satu kota besar di Jawa Timur, dengan jurusan pendidikan. Setelah tamat seperti sarjana pada umumnya, aku bekerja sebagai guru selama enam bulan lamanya. Akan tetapi, beberapa hal yang mengganggu idealismeku membuatku untuk keluar dari dunia pendidikan yang jauh dari ekspektasi yang dulu tersimpan indah dalam hati. Waktu terus berlanjut, sebagai sarjana pendidikan tentu idealnya aku harus mengajar di salah satu instansi pendidikan baik itu swasta maupun nonswasta. Tapi aku berbeda, aku memilih bekerja selain di dunia pendidikan sehingga sudah bisa dipastikan bahwa selama dua tahun aku lulus dari bangku perkuliahan, aku bergonta ganti pekerjaan. Aku memutar otak, kira-kira apa yang salah dengan diriku, meneliti, menganalisa, dan merenung. Hingga suatu saat keluarlah kata-kata dari orang tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi seorang pengajar. Bingung, stres, dan hal negatif lain menghinggap di kepalaku waktu itu karena aku sudah trauma dengan mengajar di instansi pendidikan formal. Hingga suatu saat datanglah tawaran untuk kembali ke dunia pendidikan. Akan tetapi, dunia pendidikan ini bersifat nonformal di suatu tempat dalam wilayah Provinsi Jawa Timur.

Nama tempat itu adalah Pare, sebuah kota kecil yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Kota ini terkenal dengan nama lain yaitu Kampung Inggris, Pare. Yah, sesuai dengan namanya sebelum aku pergi ke tampat ini aku menyangka bahwa semua orang yang ada di Pare ini bisa berbicara ataupun semua percakapan yang digunakan adalah bahasa Inggris. Menurut penuturan teman sejawat, memang seperti itu adanya. Konon kabarnya, kota kecil itu dipenuhi lebih dari dua ratus tempat kursus bahasa Inggris sehingga bisa dilogika; jika setiap kursusan mempunyai sedikitnya sepuluh murid saja, akan ada ratusan orang yang belajar di sana. Belum juga para pengajar yang tidak mungkin di-handle sendiri oleh pemiliknya.

Pare, aku sudah tiba di sini. Benar kabar yang dulu kudengar bahwa kota ini dipenuhi dengan orang-orang yang berbicara bahasa Inggris di mana pun dan kapan pun berada, bahkan sampai ketika nongkrong pun pakai bahasa Inggris. Aku terkesima dengan pemandangan ini. Pernah aku bertanya, dari mana asal kota orang-orang yang nongkrong tersebut, dan hasilnya aku lebih terkesima lagi, kebanyakan mereka berasal dari luar pulau Jawa. Dan aku, Mengajar di suatu lembaga bimbingan belajar untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi favorit yang bernama BIAS Education. Sudah tentu aku harus menumbuhkan kembali semangat mengajar yang hilang karena trauma, di tempat ini. Hal-hal yang menjadi traumaku perlahan hilang ketika aku sedang mengajar, berganti dengan rasa senang dan nyaman saat mengajar.

Pare, adalah kota di mana aku menemukan kembali harapan yang meredup. Bahkan saat aku sudah mulai jenuh ketika mengajar, ada obat-obat hati yang tidak aku dapatkan di kota lain. Kota ini benar-benar membius dengan segala aktivitas orang-orang di dalamnya. Hingga tak ada lagi alasan bagiku untuk bersedih ataupun berkeluh kesah tentang trauma yang dulu menghinggapi hatiku.

 

Pare, 02 juli 2018

Di temaramnya sore

 

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of