Sapalah Orang Pare yang Malu-malu

0
313
Sumber: dokumen pribadi

Kampung Inggris bukanlah nama lain dari Pare. Tidak setiap sudut di Kecamatan Pare dipenuhi ramai riuh orang berbahasa Inggris. Jadi jika Anda telah sampai di Pare, maka jangan merasa senang dulu. Anda perlu mengajukan pertanyaan umum orang tersesat di pinggir jalan. Pertanyaan harus dengan bahasa Indonesia atau Jawa, jangan bahasa Inggris! Jika anda berkendara maka matikanlah mesin dan turunlah. Sapalah dengan senyuman, awalilah dengan permisi atau dengan mantra pembuka: Nuwun Sewu Pak/ Bu/ Dhe/ Lik/ Mas/ Mbak, bade Nyuwun Pirsa blablabla, setelah itu  Anda akan mendapatkan jawaban yang pantas dan tepat bahkan kalau sangat baik orang yang Anda tanyai itu, Anda akan diantarkan ke tempat yang anda mau GRATIS.

Bagi yang naik angkutan umum gimana? Ya naiklah becak atau ojek.

Brand Kampung Inggris pada Pare, tepatnya Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, benar-benar baru menjadi tren setelah tahun 2010-an. Sebelumnya, pertanyaan umum tentang Kampung Inggris akan dijawab sederhana dengan menunjuk sebuah tempat yaitu Jalan Anyelir, karena memang dari jalan bunga itulah Kampung Inggris dipelopori dan lahir. Seiring berjalannya waktu, warga masyarakat setempat telah akrab dengan brand Kampung Inggris, merasakan pengaruhnya secara langsung. Lembaga-lembaga kursus juga meningkat keberadaannya, terus bermunculan tidak hanya yang berada di Jalan Anyelir, Dahlia, dan sekitarnya saja, tapi “berbunga-bunga” di jalan yang lain di dua desa tersebut. Jawaban atas pertanyaan umum tersebut akan berganti pertanyaan lanjut, Kampung Inggris yang mana dulu Mas/Mbak? Kursusan yang mana?.

Brand Kampung Inggris telah meroket dan dikenal oleh banyak orang di seluruh penjuru nusantara bahkan beberapa dari negeri jiran. Penduduk lokal sudah pasti sangat bangga, daerahnya terkenal. Bahkan jika orang tak tahu mana itu Kediri mana itu Pare, maka Kampung Inggris adalah jawaban atas kebingungan itu. Diukur dari dimensinya, Kampung Inggris bisa dikatakan menjadi “miniatur” kota-kota besar pendidikan yang terkenal seperti halnya Surabaya, Malang, dan Yogyakarta.

Jalan-jalan kampung yang dulunya sepi dan lengang sekarang harus dibagi dengan warga pendatang. Sepeda-sepeda onthel berlalu-lalang. Rumah tetangga yang dulunya dengan seenaknya sendiri bisa dihampiri dan didatangi berubah menjadi sekolah-sekolah milik orang lain. Teras-teras rumah yang biasanya dipakai untuk bersenda gurau, rujakan, mengasuh anak-anak kecil, dan petan (kegiatan mencari kutu rambut kepala) telah berubah menjadi kelas-kelas. Udara yang dulunya sunyi dan senyap telah bertambah unsur bunyinya. Penjual-penjual pentol juga sudah sok-sokan pakai bahasa Indonesia bahkan ada beberapa yang saat dibeli menyambut dengan pertanyaan “How much Sir?”. Bagi warga asli yang pada selang perubahan itu merantau saat pulang kampung akan sangat merasa pangling berat, aneh dan rikuh.

Jembatan-jembatan atau titik lain yang dulu dijadikan berkumpul pemuda-pemuda untuk nongkrong sekarang telah sepi. Warung-warung kopi bermunculan tapi pemuda desa jarang ditemui berkumpul seperti dulu atau sangat sulit sekali untuk dibedakan. Pemuda-pemuda desa kalah jumlah.

Kampung Inggris menjadi berkah bagi masyarakat. Perekonomian naik drastis. Banyak yang membuka usaha sampingan atau bahkan banting stir menjadi penyedia kebutuhan warga pendatang. Dari situ masyarakat mendapatkan banyak keuntungan dan tentu saja kesejahteraan. Terutama warga yang memiliki inisiatif, kreatif, dan kepandaian membaca peluang.

Tapi tak selamanya hal-hal itu terjadi. Tak selamanya juga hubungan selalu didasarkan akan kebutuhan dan kepentingan ekonomi. Banyak yang tidak bisa membaca peluang, atau sudah membaca tapi tumbang tak bertahan. Banyak warga yang masih malu-malu. Ada juga yang masih belum bisa move on dari masa lalu kampungnya. Ada yang merasa sepi dan kemudian rindu. Ada pula yang merasa kehilangan hubungan erat seperti dulu. Namun kampung tetap telah berubah.

Orang-orang kampung yang malu-malu telah kedatangan tamu. Tamu itu adalah orang-orang terpelajar. Tamu itu berasal dari kota. Dan kebanyakan berpenampilan seperti orang punya. Orang-orang udik dan berpendidikan rendah, jarang mengenal kehidupan kota akan merasa sungkan dan rikuh dibuatnya. Wajah-wajah baru yang lalu lalang dan berpapasan seperti asing, tidak kenal, tidak sayang. Warga kampung yang tak tahan juga sering mengungkapkan rasa irinya pada perbedaan ekonomi.

Para pendatang, tamu atau peserta kursus itu akhirnya hanya mendapatkan sebuah nama yang diberikan warga setempat sebagai Arek Kos-kosan, Arek Kursusan, Arek Kampung Inggrisan, Arek Bahasa Inggrisan. (arek berarti anak, bocah, atau pemuda).

Sebuah perkenalan mungkin terdengar “hanya buang waktu”,  dikarenakan kebanyakan dari arek-arek itu hanya sebentar saja hidup di Kampung Inggris. Namun hal itu tidak berarti meniadakan hubungan hangat yang bisa terjalin.

Maka sapaan dapat cukup berarti. Bagi para pendatang sapalah Orang Pare yang malu-malu.

Samsol Maarif. Sekretaris kumpulan Pemuda The Etan Kali Pare.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of