Silaturahmi ke Mr. Kalend Osen (BEC Kampung Inggris), Sang Perintis Kampung Inggris

0
953
mendengarkan nasihat dan kisah-kisah perjuangan Pak Kalend Osen sebagai tokoh perintis adanya Kampung Inggris, sumber: dokumen BIAS

Kampung Inggris ada diawali dengan berdirinya BEC Kampung Inggris. Tentunya, diawali juga oleh sang perintis hebat dan memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Siapa yang menyangka, dari ketidaksengajaan, kini Kampung Inggris menjadi wisata pendidikan yang berkembang pesat di Kabupaten Kediri. Menyebarnya 150 lebih kursusan bahasa Inggris di Desa Pelem dan Tulungrejo menjadikan berkah bagi kehidupan masyarakat di sana. Banyak usaha warung, laundry, penyewaan sepeda, bengkel, kos-kosan dan usaha lainnya yang semakin ramai membuat perekonomian masyarakat meningkat. Tentunya di balik itu semua ada seorang perintis yang gigih memulai.

Kalend Osen, saat teman-teman dari BIAS Education mengunjungi BEC Kampung Inggris, usianya sudah menginjak 73 tahun dan masih menjadi pengajar di lembaga kursusannya, Basic English Course. “Berangkatnya memang tidak ada unsur kesengajaan. Kalau saya dulu gara-gara kepepet nggak ada kerjaan. Ini barang kali yang awalnya susah sekali. Kalau orang-orang lain sekarang mudah, bisa niru. Kalau saya dulu niru siapa? Nggak ada, harus mencipta. Sehingga, gagal, ganti, gagal, ganti. Bolak-balik gitu. Ya alhamdulillah,” cerita Pak Kalend.

Terletak di Desa Pelem, kemudian BEC berhasil menginspirasi murid-murid Pak Kalend untuk mendirikan lembaga kursus. Bahkan, sekarang berkembang kursus musik, komputer, bahasa Arab, Korea, dan Jepang. Tak heran jika sampai kini Kampung Inggris menjadi mashur hingga ke pelosok nusantara bahkan luar negeri, diawali oleh seorang wartawan yang dulu pernah memberitakan kampung ini. Hingga akhirnya, masyarakat akrab menyebutnya sebagai Kampung Inggris.

Mas Mirza (kanan), perintis BIAS Education dan Pak Kalend Osen (kiri), perintis Kampung Inggris, sumber: dokumen BIAS

Wisatawan yang berbondong datang memang untuk belajar secara singkat agar lulus ujian. Kemudian banyak juga yang mengulang karena ingin mematangkan kemampuan bahasa asingnya untuk bekerja atau belajar ke luar negeri. Pak Kalend mengaku, kalau metode dan sistem di kursusan itu berbeda dengan sekolah. “Siapa yang melarang? Tidak ada. Kursusan itu berani ditaruh di level yang paling bawah dalam dunia pendidikan. Tidak apa-apa,” kata Pak Kalend. Ia cenderung suka membaca buku Dale Carnegie, seorang satrawan yang juga ahli kursus dari Amerika. Ia mengibaratkan sastrawan ini adalah seperti Buya Hamka kalau di Indonesia. “Orang berani ngursus sama halnya dengan mencalonkan diri menjadi tenaga ahli, minimal dalam bidang itu,” begitu yang ia ingat dari Dale Carnegie.

Pak Kalend juga menyayangkan, kalau pemerintah tidak pernah memberikan penghargaan serius. “Jika kita melihat di Jepang, kursusan yang ada di Jepang begitu didukung oleh pemerintah. Dunia kursus di sana maju dibantu oleh pemerintah. Mereka memperhatikan dunia kursus supaya dikembangkan. Di Indonesia, mau ke luar saja masih susah,” ungkapnya.

Jika kita mengamati, orang-orang Jepang seringkali tidak di rumahnya. Mereka diberikan kemudahan dan dijamin jika ingin keluar merantau dari negaranya. Hingga Jepang begitu cepat mengejar Amerika. “Jepang pada tahun 1991, sejak Candi Borobudur membuka kunjungan wisatawan asing, 28 persen penduduk Jepang harus merasakan luar negeri,” begitu kata Pak Kalend. Orang Jepang diusahakan dan diprogram oleh pemerintahnya ke luar negeri. “Makanya orang Jepang hidupnya ada di mana-mana,” tambahnya. Keuntungan bagi pemerintah kalau orang Jepang bisa keluar negeri. Mereka bakal punya segudang pengalaman. Pemerintah juga akan lebih gampang mengarahkan. Ditambah lagi, mereka yang mendapatkan peluang untuk berkembang akan lebih cinta terhadap negaranya.

Meski banyak yang kecewa karena ekspektasi masyarakat luar kota yang terlalu tinggi terhadap Desa Pelem dan Desa Tulungrejo sebagai kampung yang menyandang nama Kampung Inggris, Pak Kalend Osen tidak ambil pusing. “Saya ini hanya mengajari bahasa Inggris, dan kemudian banyak yang datang. Tukang becak dan penjaga warung itu mungkin hanya kebetulan dia pernah belajar dengan saya, jadi tidak semua masyarakat Kampung Inggris ini bisa berbahasa Inggris,” begitu kisahnya dalam wawancara stasiun televisi. Pak Kalend mengatakan kalau dua desa ini lebih cocok disebut sebagai Kampung Kursusan bahasa Inggris karena jumlah kursusannya yang banyak. Di mana-mana terlihat anak-anak muda yang belajar bahasa Inggris. Baik orang yang sudah bergelar sarjana, magister maupun doktor juga belajar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing.

“Dari sini, ada lulusan tahun 1985 yang kerja di kapal Raja Malaysia. Sekarang dia akrab dengan raja karena lima kapal yang  dibawanya adalah kepunyaan Raja,” ungkapnya. Hal ini kemudian yang banyak diteladani dari Pak Kalend. Terutama tentang ibadah dan kedisiplinannya dalam mengantarkan kesuksesan orang-orang Indonesia ke luar negeri. “Asal mau berproses, kesuksesan itu mudah digapai,” pesan Pak Kalend.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of